|

Kilas informasi (0) :

PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN KONSTRUKSI

PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN KONSTRUKSI

Oleh: Dasdo Yessa (Jabatan Fungsional Ahli Muda PJK)

 

 

Sistem Manajemen Konstruksi adalah bagian dari sistem manajemen pelaksanaan pekerjaan konstruksi dalam rangka menjamin terwujudnya keselamatan konstruksi. Adapun instrument SMKK dimulai pada saat rancangan konseptual SMKK yang disusun pada saat perencanaan dan tahap perancangan sampai dengan penyusunan RKK penyelenggaraan dan pelaksanaan konstruksi.

Tujuan dari Manajemen risiko Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) adalah upaya mengurangi risiko K3 yang berpotensi mengakibatkan kerugian baik dalam perihal finansial maupun citra dari perusahaan itu sendiri. 

 

Terjadinya kecelakaan kerja dalam proyek konstruksi menjadi salah satu indikator yang mempengaruhi kinerja perusahaan dan secara langsung menjadikan kegagalan penerapan manajemen resiko dalam pekerjaan tersebut. Lalu berikut beberapa yang menyebabkan kasus kecelakaan konstruksi antara lain :

  • Kurangnya koordinasi dan komunikasi;
  • Lemahnya desain to construct;
  • Lalai/abai pada SOP, tahapan dan metode kerja hanya dibuat sebagai syarat administrasi;
  • Lalai dalam identifikasi dan pengendalaian risiko di aspek K4 (yaitu aspek terhadap pekerja, konstruksi, public, dan lingkungan);
  • Kurangnya fungsi pengawasan pekerjaan;
  • Tenaga Kerja yang belum kompeten;

 

Apa saja dampak dari kecelakaan konstruksi antara lain :

  • Keterlambatan Proyek;
  • Cost Over run;
  • Kerusakan Lingkungan;
  • Terjadi Kontrak Kritis;
  • Biaya Kecelakaan Kerja;
  • Performance Corporate;
  • Menyebabkan Kerugian Negara (Pada Proyek APBN);
  • Potensi Perselisihan;

 

Bagaimana Budaya Berkeselamatan Berkonstruksi  di Indonesia menurut survey yang dilakukan terhadap 25 perusahaan konstruksi dengan lebih dari 200 responden bahwa budaya keselamatan konstruksi di Indonesia masih berada pada level 2 yaitu reactive (basic, reactive, compliant, Proactive, Resilent)

Apa saja kategori yang dipenuhi oleh level 2 ini antara lain : 

  • Sistem akan berjalan setelah terjadi kecelakaan kerja
  • Blame culture atau budaya saling menyalahkan
  • Investigasi kecelakaan hanya fokus terhadap kesalahan manusia
  • Investigasi Kecelakaan dengan analisasi yang masih terbatas
  • Sudah ada pelatihan kerja namun tidak rutin
  • Kepatuhan terhadap aturan masih rendah
  • Idnetifikasi bahaya, penilaian resiko dan pengendalaian masih bersifat reaktif
  • Penerapan alat pelindung diri (APD) untuk mengurangi dampak paparan
  • Kebersihan kerja dan pemeriksaan Kesehatan pekerjaa masih bersifat reaktif
  • Audit baru dilakukan jika ada permasalahan untuk tujuan teretentu saja.

 

5 Masalah Strategis pada Keselamatan Konstruksi :

  1. Kegiatan Konstruksi tidak memperhatikan Keselamatan Konstruksi
  2. Pengawasan Keselamatan Konstruksi saat kegiatan konstruksu kurang
  3. Tenaga Ahli secara kuantitas dan kualitas masih kurang
  4. Petugas Keselamatan Konstruksi/Ahli K3 KOnstrksi/Ahli Keselamatan Konstruksi yang bersertifikast masih kurang
  5. Regulasi belum mendukung

Bagaimana cara mengatasi permasalahan diatas maka diperlukan Transformasi Kebijakan antara lain :

  1. Perbaikan Regulasi
  2. Pembentukan Komite Keselamatan Konstruksi
  3. Pembinaan-Peningkatan Kualitas SDM (Percepatan Sertifikasi dan Bimtek SMKK)
  4. Perbaikan Organisasi QHSE – UKK (Unit keselamatan KOnstruksi)
  5. Pengawasan

 

Ada beberapa penerapan dalam Sistem Manajemen Keselamatan Konstruksi yaitu :

KK -> Keselamatan Konstruksi

K4 -> Keamanan, Keselamatan, Kesehatan dan Keberlanjutan

K3 -> Keselamatan dan Kesehatan Kerja

 

Sistem Manajemen Keselamatan Konstruksi terdiri dari

1. Keselamatan Keteknikan Konstruksi

Dimana pada poin ini objek yang diselamatkan yaitu terkait Bangunan/Aset Konstruksi, Peralatan dan Material

Pencegahan terhadap Kecelakaan Keteknikan Konstruksi

 

2. Keselamatan & Kesehatan Kerja

Dimana objek yang dijamin adalah Pemilik/pemberi pekerjaan, Tenaga Kerja Konstruksi, Pemasok/tamu/subpenyedia

Pencegahan terhadap Kecelakaan kerja, Penyakit Akibat Kerja

3. Keselamatan Publik

Objek yang diselamatkan yaitu masyarakat di sekitar proyek, masyarakat terpapar

Pencegahan terhadap Kecelakaan pada masyarakat

4. Keselamatan Lingkungan

Objek yang diselamatkan yaitu lingkungan kerja, lingkungan terdampak proyek, lingkungan lama, lingkungan terbangun

Pencegahan terhadap Kecelakaan lingkungan

 

Untuk meningkatkan Sistem Manajemen Keselamatan Konstruksi maka Keempat hal diatas perlu dilakukan dengan metode pencegahan yaitu terkait identifikasi Bahaya, Penilaian resiko dan Peluang (HIRAO), Prosedur kerja aman, analisis keselamatan konstruksi (AKK), RKK, RMPK, RKPPL, Program Mutu dan RMLLP.

Berita Terkait :

© Copyright 2017, Biro PBMN dan Layanan Pengadaan, Sekretariat Jenderal, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat All Right Reserverd