|

Kilas informasi (0) :

Kesalahan Penggunaan Kurva S

Kesalahan Penggunaan Kurva S

Oleh: Dasdo Yessa (Jabatan Fungsional Ahli Muda PJK)

 

 

Kurva S merupakan salah satu jadwal yang sering digunakan oleh penyedia sebagai metode pengendalian kontrak untuk memantau kemajuan pekerjaan. Kurva S merupakan grafik hubungan antara kumulatif kemajuan pekerjaan dengan waktu penyelesaian pekerjaan dan merupakan salah satu metode perencanaan dan pengendalian jadwal proyek yang cukup popular digunakan oleh pelaku pengadaan dibidang jasa konstruksi. Akan tetapi ternyata pemanfaatan Kurva S tidak dipergunakan maksimal dan salah mengimplemantisakan oleh para pelaku pengadaan. Pemahaman filosofis pemanfaatan Kurva S sangat diperlukan pelaku pengadaan untuk membantu pengendalian kontrak dalam menyelesaikan pekerjaan. Karena pemahaman yang kurang, banyak kesalahan dalam penggunaan metode ini, diantaranya :

1. Kurva harus berbentuk huruf S

Ketika memilih metode pengendalian pekerjaan dengan Kurva S, seringkali pelaku pengadaan memahami bahwa bentuk kurva S harus seperti huruf S. Bahkan sampai salah kaprah, membuat grafiknya agar berbentuk huruf S, tanpa memperhitungkan akumulasi kemajuan pekerjaan, langsung diinsert gambar grafik pada kolumnya untuk kendali pekerjaan.

Padahal apabila kita plotting sesuai dengan data yang ada untuk memprediksi pekerjaan per item pekerjaan, sulit sekali Kurva S bisa berbentuk S.

Padahal kenyataannya apabila kita memploting ke kurva S, berdasarkan distribusi pembagian pekerjaan dan durasi penyelesaian pekerjaan per item yang wajar, maka sulit sekali kurvanya berbentuk huruf S smoot, karena sangat tergantung keragaman dan varians dari pekerjaan konstruksi tersebut.

Metode ini dinamai kurva S disebabkan bentuknya yang menyerupai huruf S karena berdasarkan penelitian kecenderungan sebuah proyek konstruksi landai di awal  karena lambat memulai pekerjaan, di tengah menanjak cepat karena pekerjaan utama biasanya memiliki  bobot biaya yang cukup besar sehingga cukup terjal karena kecepatan pekerjaan cukup cepat pada fase ini, serta kembali melandai di akhir karena pekerjaan finishing cenderung memerlukan waktu yang cukup lama untuk menyelesaikannya tetapi bobot biayanya kecil.

2. Kurva S sebagai Acuan Perubahan Kontrak

Pada saat rapat pembahasan, mungkin karena bentuk kurva S tidak sesuai dengan yang diharapkan atau terlampau terjal, berdasarkan bentuk Kurva S para pihak melakukan perubahan kontrak karena dianggap sebagai titik kritis. Sah-sah saja para pelaku pengadaan melakukan perubahan kontrak bahkan dengan dasar Kurva S sendiripun, tetapi Ketika acuannya adalah karena bentuk Kurva S dengan penilaian ada beberapa titik kritis yang akan menyebabkan keterlambatan maka dilakukan perubahan pekerjaan bahkan sampai perubahan waktu.

Untuk meminimalkan resiko, pengelola proyek memang harus jeli untuk mengetahui titik-titik kritis mana yang dapat menghambat pekerjaan. Tetapi Ketika hanya dengan melihat dan mengacu kepada Kurva S hal ini malah menambah resiko pekerjaan menjadi terlambat bahkan tidak terselesaikannya pekerjaan.

Kurva S digunakan hanya untuk mengevaluasi kemajuan pekerjaan apakah terlambat atau lebih cepat berdasarkan asumsi pencapaian prestasi dengan pendekatan bobot pekerjaan berdasarkan biaya.

3. Kurva S Menggambarkan Kemajuan Pekerjaan Aktual

Apabila pekerjaan mengalami keterlambatan atau lebih cepat dianggap sudah menggambarkan realisasi kemajuan pekerjaan yang sebenarnya. Padahal yang kemajuan pekerjaan berdasarkan kurva S tidak selalu menggambarkan kemajuan pekerjaan fisik yang aktual.

Karena perhitungan bobot pekerjaan pada kurva S berdasarkan pendekatan keuangan/biaya penyelesaian per item pekerjaan bukan realisasi fisik di lapangan. Sehingga apabila salah satu item pekerjaan biayanya besar, maka bobotnya akan tinggi, tidak melihat pengaruh besaran item pekerjaan tersebut terhadap pembentuk konstruksinya.

4. Grafik yang terjal diperhitungkan sebagai titk kritis

Titik kritis  pekerjaan yang mungkin terjadi keterlambatan, tidak selalu pada item pekerjaan yang berdasarkan perencanaan memiliki akumulasi kemajuan pekerjaan yang cepat (pada grafik digambarkan pada kurva yang terjal). Tetapi berdasarkan tingkat kesulitan, volume pekerjaan, sumberdaya yang tersedia, produktivitas kerja, serta durasi waktu yang diprediksi untuk menyelesaikan pekerjaan.

Untuk menilai lintasan/jalur kritis tidak bisa dengan Kurva S tetapi dengan metode lain seperti Critical Path Method (CPM)Precedence Diagram Method (PDM), ataupun Network Analysis/Network Planning (NWP)

5. Kemajuan Pekerjaan Realisasi berdasarkan Penilaian Aktual

Seringkali terjadi perbedaan pendapat antara konsultan pengawas, Kontraktor, maupun Pengelola Kegiatan terkait kemajuan pekerjaan. Hal ini dikarenakan ada pihak yang menilai kemajuan pekerjaan berdasarkan prosentase pekerjaan aktual di lapangan.

6. Crash Program pada Pekerjaan yang Berbobot Tinggi

Ketika ada keterlambatan maka dilakukan percepatan/crash program, dan dilakukanlah pada pekerjaan yang berbobot tinggi untuk mengejar keterlambatan. Karena salah memilih pekerjaan yang dipercepat ternyata penyelesaian pekerjaan tetap terlambat.

Seharusnya untuk dasar crash program adalah pekerjaan yang memiliki jalur kritis/lintasan kritis untuk penyelesaian pekerjaan tersebut. Sehingga Ketika melakukan pengendalian pekerjaan sebaiknya digunakan beberapa metode pengendalian tergantung keperluannya. Maka untuk metode item pekerjaan diantaranya adalah Critical Path Method (CPM)

7. Pembagian Bobot Pekerjaan Dianggap sama berdasarkan durasi waktu yang ditetapkan per item pekerjaan

Padahal karena keunikan dan variasi pekerjaan konstruksi tidak semua kemajuan pekerjaan sama tingkat kemajuan pekerjaannya per satuan waktu dari durasi pekerjaan yang ditetapkan.

Berita Terkait :

© Copyright 2017, Biro PBMN dan Layanan Pengadaan, Sekretariat Jenderal, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat All Right Reserverd